Stun MeStun MeStun Me
Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Konsep Kebahagiaan Dalam Islam


Ditulis oleh Ustadz Abdul Latief   
Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain. Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness)?
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.
Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka. Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'
Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan. Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?
Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan: "Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.
Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.
Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.
Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."
Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.
Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.
Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.
Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar. Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih. "Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu. "Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."
"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."
Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Jumat, 18 Februari 2011

Kebahagiaan Hanya dalam Iman dan Amal Shaleh

Mencari kebahagiaan adalah fitrah murni setiap manusia. Tidak melihat apakah itu lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang kaya atau orang miskin, orang besar atau orang kecil. Semua menginginkan kebahagiaan. Segala tindak tanduk manusia dapat kita lihat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencari kebahagiaan.
Kebahagiaan itu bukan terletak pada tangan, mata, kaki, telinga, atau yang lainnya. Tetapi kebahagiaan itu terletak pada hati (jiwa). Orang yang mendapat kebahagiaan akan merasa ketenangan hati, ketenangan jiwa dan keindahan ruh. Kalau kita lihat berbagai cara dan jalan telah ditempuh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ada yang mencari kebahagiaan melalui kekayaan, pangkat, nama, kemasyhuran atau isteri yang cantik. Tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah, benarkah semua itu dapat memuaskan hati manusia dengan mutlak
Kalau mencari kebahagiaan itu diusahakan dengan kebendaan, percayalah…manusia akan gagal mencari kebahagiaan, manusia akan mencapai kekecewaan, manusia akan merasa malang setiap hari, jiwa tidak tenang, tidak tenteram sepanjang masa. Inilah yang dikatakan Neraka sementara sebelum merasakan Neraka yang hakiki dan dahsyat lagi mengerikan di Akhirat nanti.
Buktinya dapat kita lihat, orang-orang yang mencari kebahagiaan melalui :
1. Kekayaan
Setelah manusia itu mencari kekayaan, ia tidak akan dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak menyenangkan. Yaitu ujian-ujian. Ujian-ujian itu merupakan sunnatullah yang sengaja Allah datangkan kepada setiap manusia. Contohnya, ia tidak dapat terhindar dari sakit yang Allah datangkan kepadanya. Jika sudah ditimpakan kesakitan maka diwaktu itu kekayaan tidak berguna lagi. Atau dalam waktu-waktu yang lain terjadi pencurian, kebakaran, diancam dan sebagainya. Kalau semua itu terjadi, walau sekaya apapun ia, tidak dapat memberi kebahagiaan kepada manusia.
2. Pangkat
Dalam keadaan mencari kebahagiaan melalui pangkat, ia juga tidak dapat terhindar daripada dihina oleh orang yang diatasnya. Ia tidak dapat terhindar dari hasad dengki dari orang lain yang berada di atasnya, semua orang akan benci sebab untuk mendapatkan pangkat ia selalu mengumpat orang, memfitnah, menjatuhkan orang lain agar orang memeri perhatian kepadanya. Apabila sudah mendapatkan pangkat apakah ia dapat terhindar dari ujian-ujian yang Allah datangkan kepadanya ? apakah ia dapat terhindar dari kematian anak, isteri, keluarga atau orang yang dicintai ? Apakah pangkat tersebut dapat memberi kebahagiaan dan ketenangan jiwa pada seseorang ??
Begitu juga kalau seseorang itu mencari kebahagiaan dengan nama kemasyhuran dan isteri cantik, ia tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Orang yang mencari kebahagiaan dengan dunia atau material semata-mata tidak akan menemui kebahagiaan selama-lamanya. Kebahagiaan yang diharapkan tetapi kecelakaan yang datang, yaitu kesengsaraan dan penderitaan di dunia lagi. Kita lihat beberapa contoh :
Bintang film terkenal yang dipuja orang yaitu Marilyn Monroe dan Elvis Presley mati bunuh diri, sedangkan mereka pada lahiriahnya seolah-olah sudah mendapatkan kebahagiaan, mengapa terjadi demikian ?
Ada juga di kalangan mereka yang mencoba bunuh diri, tetapi dapat diselamatkan. Ada yang tidak berani bunuh diri, tetapi terlibat dengan ganja, narkotik, minuman keras, dan bermacam-macam kejahatan yang mengerikan dan merusakkan masyarakat. Ada juga yang sebelum dapat dunia, mereka berusaha sungguh-sungguh agar dapat memberi kebahagiaan, kepuasan jiwa dan ketenangan hati. Dengan itu mereka membenci dunia, mereka tinggal segala-galanya membawa diri mengikut rasa hati, kesana kemari tidak tentu arah. Ada yang membiarkan pakaiannya compang-camping, seolah-olah ingin hidup seperti rumput rampai. Malah penyakit-penyakit beginilah yang menjadi masalah pada masyarakat sekarang ini.
Benarlah firman Allah SWT yang artinya :
"Tidak ada hidup di dunia ini, melainkan mata benda yang menipu daya"
[Q.S. Al Hadid : 20]
Di dunia lagi sudah terasa menipu dan mengecewakan, buktinya mereka yakin pangkat, kekayaan, nama dan kemasyhuran, serta isteri cantik dapat memberikan kebahagiaan, tetapi semua itu telah menipu mereka. Di Akhirat nanti baru dia sadar bahwa dunia ini menipunya, hingga menjadikan dia lupa perintah Allah. Karena dunialah yang menyebabkan dia terjun ke Neraka.
Firman Allah SWT yang artinya :
"Rasakan azab dan siksa yang pedih"
Kalau begitu dimanakah kebahagiaan yang hakiki, di dunia atau Akhirat …? Kebahagiaan yang hakiki lagi sejati adalah setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul serta melaksanakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang dengan sepenuh hati dan ikhlas.
Allah berfirman yang artinya :
"Ketahuilah bahwa dengan mengingati Allah itu hati akan tenang (jiwa akan tenang)" [Q. S. Ar-Raad : 28]
Dimana di Akhirat nanti tidak berguna lagi harta kekayaan, pangkat, pujian dari orang dan isteri yang cantik. Semua tidak akan dapat memberi manfaat lagi di hari Akhirat.
Firman Allah yang artinya :
"Di hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat sejahtera"
[Q.S. Asy-Syuaraa : 88 - 89]